Sabtu, 03 Maret 2012

:Softskil dan Hardskil" Yugas Matematika Ilmu Alamiah Dasar

Nama : Dian Hendriany
Kelas :  1 PA 10 (3 PA 06)
NPM : 14509494

1. Sofskil Adalah????
Soft skills didefinisikan sebagai ”Personal and interpesonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, initiative, decision making etc.) Soft skills does not include technical skills such as financial, computing and assembly skills “. (Berthal). Softskills adalah ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Atribut soft skills, dengan demikian meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap. Atribut softskills ini dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini dapat berubah jika yang bersangkutan mau merubahnya dengan cara berlatih membiasakan diri dengan hal-hal yang baru.
Di Indonesia belum ada dokumen resmi untuk memberikan informasi atribut soft skills apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja atau dunia usaha, Beberapa lembaga pendidikan/perguruan tinggi, lembaga konsultan SDM dan beberapa acara diskusi terbatas di DIKTI telah menghasilkan rumusan atribut soft skills yang bervariasi di dunia pekerjaan. Misalnya, hasil Tracer Study yang dilakukan oleh Departemen (dulu jurusan) Teknologi Industri Pertanian IPB tahun 2000, menyatakan bahwa atribut jujur, kerjasama dalam tim, integritas, komunikasi bahwakan rasa humor sangat diperlukan dalam dunia kerja.
Penulis buku-buku serial manajemen diri, Aribowo, membagi soft skills atau people skills menjadi dua bagian, yaitu intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills adalah keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri. Intrapersonal skills sebaiknya dibenahi terlebih dahulu sebelum seseorang mulai berhubungan dengan orang lain. Adapun Interpersonal skills adalah keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain. Dua jenis keterampilan tersebut dirinci sebagai berikut


 2. Perbedaan Sofskil dan Hardskil 

Soft skill adalah Ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (INTERPERSONAL SKILLS) dan ketrampilan dalam mengatur dirinya sendiri (INTRA-PERSONAL SKILLS) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal.
Beda Soft Skill dan Hard Skill
Hard skill adalah kemampuan  yang dapat menghasilkan sesuatu sifatnya visible dan immediate . Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal.
Contoh soft skill antara lain: kemampuan beradaptasi, komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, conflict resolution , dan lain sebagainya.
Hard skill dapat dinilai dari technical test atau practical test . soft skill dapat dinilai dengan menggunakan teknik wawancara yang mendalam dan menyeluruh dengan pendekatan behavioral interview . Dengan behavioral interview , diharapkan kandidat-kandidat tidak  
3. keterkaitan Softskil dan Hardskil dalam dunia kerja11111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111

Kebutuhan Soft Skill Di Dunia Kerja11111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111111q      

Di dalam persaingan seperti sekarang, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki profesionalisme dan manajerial skill yang berbasis kemampuan sudah merupakan tuntutan. Terlebih di dunia kerja sekarang banyak dipengaruhi perubahan pasar, ekonomi dan teknologi. Tenaga kerja yang memiliki kecerdasan emosional (Emotional Quatient) sangat mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut disamping kecerdasan intelektual. Berdasar hasil survey Nasional Assosiation of Colleges and Employers USA (2002) terhadap 457 pimpinan perusahaan menyatakan bahwa Indeks Kumulatif Prestasi (IPK) bukanlah hal yang dianggap penting dalam dunia kerja. Yang jauh lebih penting adalah sotfskill antara lain kemampuan komunikasi, kejujuran, kerjasama, motivasi, kemampuan beradaptasi dan kemampuan interpersonal dengan orientasi nilai pada kinerja yang efektif.

Kemampuan softskill diatas, sebetulnya masuk dalam kecerdasan emosional yang menurut definisi adalah Kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, Kemampuan memotivasi diri, Kemampuan mengendalikan diri/ mengelola emosi pada diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain (Daniel Goleman). Ada lima kecedasan emosial yang dibutuhkan didunia kerja sekarang ini, yaitu :

  1. Kesadaran Emosional , yang meliputi kedewasaan emosi dalam  pengambilan keputusan yang win-win solution.
  2. Pengelolaan Emosional (pengedalian diri) yang meliputi kemampuan kepekaan, sabar dan  tabah dalam menjalankan tugas.
  3. Motiovasi Diri, yang meliputi  kemampuan berpikir positif, ulet dan pantang menyerah
  4. Empati pada Sesama  ; yang meliputi kemampuan memahami, merasakan, peduli, hangat, akrab dan kekeluargaan
  5. Ketrampilan Sosial , yang meliputi kemampuan bermusyawarah, bekerjasama, kepentingan umum/tim)
Di sisi lain secara teori, di dalam dunia kerja, ada 3 (tiga) unsur utama yang harus dipenuhi agar seseorang dikatakan memiliki kompetensi  yang meliputi kompetensi knowledge atau cognitive domain, skill atau psychomotor domain, serta attitude atau affective domain.(Jayagopan Ramasamy, Malaysia 2006). Dalam teori tersebut dikatakan bahwa kompetensi tersebut harus bisa diukur (measurable), dinilai, ditunjukkan (demonstrable) dan diamati (observable) melalui perilaku pada saat melaksanakan tugas. Sasaran akhir dari kompetensi adalah perilaku yang diharapkan (desired behaviour) dan perlu ditunjukkan dalam melaksanakan tugas. kompetensi yang berkaitan langsung dengan bidang kerja.

0507276.blog.unikom.ac.id/softskill-dan.2pf


keterkaitan Softskil dan hardskil di perkuliahan
Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skill-nya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill (Direktorat Pendidikan ITB, 2005).
Apa yang membuat seseorang sukses? IP nyaris 4,00? Tampang keren? Calon Mertua Kaya? Keberuntungan? Hasil penelitian menunjukkan bahwa IP hanya menduduki peringkat 17 dari 20 kualitas lulusan perguruan tinggi yang diharapkan dunia kerja.
Soft skill adalah kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik pada lingkungan dimana dia berada. Ini penting, karena banyak para lulusan penguruan tinggi ketika diminta berbicara, menyampaikan ide atau gagasan serta mempresentasikan karyanya, tidak siap (Pramudi, 2008).
Soft skill adalah kemampuan tak terlihat yang diperlukan untuk sukses (Ditdik ITB, 2005).
Soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional quotient). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intrapersonal dan interpersonal. Intra-personal skill:ketrampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri untuk pengembangan kerja secara optimal. Inter-personal skill: ketrampilan seseorang dalam hubungan dengan orang lain untuk pengembangan kerja secara optimal (UBB, 2008).
Soft skill adalah sebuah istilah dalam sosiologi tentang EQ (Emotional Quotient) seseorang, yang dapat dikategorikan /klusterkan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, bertutur bahasa, kebiasan, keramahan, optimasi. Soft skills ‘berbeda’ dengan hard skills yang menekankan kepada IQ, artinya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. (Karmilasari, 2008). Contoh perbedaan soft skills dan hard skills bisa dilihat di gambar di bawah ini:
Perguruan tinggi memandang lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi adalah mereka yang lulus dengan nilai tinggi. Sedangkan, dunia kerja menganggap bahwa lulusan yang high competence adalah mereka yang mempunyai kemampuan teknis dan sikap yang baik. Nah ini dia,kalau menurut saya..antara hard skill dan soft skill, ya…memang tidak bisa dipisahkan untuk menuju kesuksesan karir seseorang.60% Hard skill dan 40% Soft skill. (menurut pendapat saya ya..mungkin saja berbeda dengan anda). Tapi, alangkah baiknya jika kedua elemen ini seimbang dan proporsional (Wartawarga, 2009).

Sebagai salah satu contoh, Universitas Gunadarma sudah menerapkan sejumlah Mata Kuliah (MK) yang proses belajar-mengajarnya adaptif terhadap pengembangansoft skills. Penerapan MK tersebut tentunya dilatarbelakangi berbagai faktor pertimbangan yaitu:
1.  Perkuliahan di perguruan tinggi tidak hanya mengandalkan materi yang diajarkan di kelas. Mahasiswa perlu berinisitaif untuk memanfaatkan proses pembelajaran di luar kelas. Kata para ahli sih, sekarang sudah jamannya menerapkan metode “student centered learning” yang menempatkan mahasiswa sebagai “manusia pembelajar” yang harus aktif dan kritis dalam menjalankan proses pembelajaran. Jadi harus ada perubahan “mindset” di kalangan mahasiswa bahwa belajar di perguruan tinggi itu relatif berbeda dengan di SMA yang mungkin lebih mengandalkan peran guru di kelas, walaupun tidak menutup kemungkinan ada sejumlah SMA yang mulai menerapkan “student-centered learning”.
2. Ada kecenderungan bahwa mahasiswa belajar di kelas untuk penguasaan core competency atau hardskill sesuai dengan bidang ilmu atau program studinya masing-masing. Padahal kesuksesan seseorang tidak hanya mengandalkan penguasaan hard skill saja. Berbagai kemampuan dan ketrampilan lain sangat dibutuhkan seperti inisiatif, kemampuan komunikasi lisan dan tulisan, interpersonnal skill dan intrapersonal skills, kepedulian sosial, kerja sama dan kepemimpinan, kreatifitas dan inovasi, dll.
3. Memerlukan terobosan atau inovasi dalam proses belajar-mengajar. Kondisi itulah yang mendorong penerapan MK “soft skills” yang sarat dengan pemanfaatan ICT seperti blog, student digital locker, sistem student portofolio,  Student journalism, sistem komunikasi dosen-mahasiswa melalui studentsite – staffsite, serta sistem informasi pendukung lainnya.
4. Setiap civitas academica UG sebaiknya mulai berperan serta dalam mengatasi persoaan riil di masyarakat. Peran tersebut diantaranya melalui pendidikan publik atau memberikan solusi atau alternatif pemecahan masalah dalam bentuk tulisan-tulisan yang bermanfaat untuk masyarakat. Berbagai tulisan tersebut berifat “open content” atau dapat diakses oleh publik secara gratis. Kebijakan “open content” tersebut memerlukan komitmen terhadap perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), bukan bentuk plagiarisme, atau mengindahkan kaidah atau prinsip ilmiah. (Campus Blog, 2009).
Pertama adalah membuat dan mengembangkan wadah-wadah organisasi mahasiswa seperti BEM, BPM, HM, UKM dan kelompok-kelompok studi, serta bagaimana agar mahasiswa sadar bahwa hal itu penting untuk diikuti kemudian berpartisipasi aktif di dalamnya.
Kedua adalah mahasiswa didorong untuk mengikuti program-program pembinaan bidang penalaran, contohnya PKM, Mawapres, LKTM, Nulis di Blog (seperti saya) ;) , kelompok studi dll. Selain itu juga didorong untuk mengembangkan bakat dan minatnya secara optimal.
Ketiga adalah usaha penularan softskills dari semua dosen saat mengajar, misalnya sikap disiplin (tidak pernah telat ke kampus) :p, bertanggungjawab, berkarakter, komunikasi yang baik, penuh perhatian, murah senyum dan punya rasa humor tinggi, ceria dan gembira, termasuk di dalam memberi penugasan-penugasan dalam perkuliahan.(Pramudi, 2008)
Keempat adalah jalin pertemanan dengan semua kalangan tanpa memandang umur, jabatan, pangkat, ras, suku, atau bahkan fakultas. Banyak mahasiswa yang hanya bergaul dengan itu-itu saja temannya (geng),  jelas itu sangat membatasi diri untuk bergaul, berbagi cerita, bertukar pengalaman, dan sebagainya.

hardskill (20%), and financial (10%)
Nah dari paparan tersebut diatas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa pendidikan tidak sekedar membuat mahasiswa menjadi pandai, melainkan bagaimana mahasiswa  diajak untuk berdaya agar menjadi cerdas dan kompetitif. Intinya, soft skill dilatih dengan cara sering berinteraksi dan menyeimbangkan aktivitas akademik dan non akademik.

      




Rabu, 18 Januari 2012

KEBUDAYAAN SUKU ASMAT DI PAPUA BARAT

 NAMA KELOMPOK
1. Astriana Novi Saesa
2. Dian Hendriany
3. Marlina
4. Mutiara Harini Kartika
5. Oliver Nadiansyah
6. Riska Yuliani


SUKU ASMAT
A.     Kisah Orang Asmat
            Fume Ripit sebagai pencipta asal manusia Asmat dan kebudayaannya. Tersebutlah seorang pemuda bernama Fumeripits mati terdampar ditepi sungai. Ia dihidupkan kembali oleh seekor burung rajawali sakti, Rasa kesunyian mendorongnya untuk menggambar rumah, menatah barang kayu menjadi patung dan tifa.
            Ketika tifa di tabur gambar rumahpun menjadi rumah laki-laki (YUE) à menjelmalah patung menjadi manusia Asmat.

B.     Peta Suku-Suku Bangsa
            Peta suku-suku bangsa adalah gambaran bahwa nusantara ini dihuni oleh berates-ratus suku bangsa, yang satu sama yang lainnya berbeda adat istiadatnya, perilaku, bahasa dan tutur kata. Sedangkan suku Asmat terletask di pulau papua bagian barat daya.
Luas wilayah suku Asmat berkisar 24.502 km2.
C.     Diorama Lingkungan Alam
            Kawasan Asma dilindungi oleh hutan rimba aneka pohon, semak belukar yang penuh belitan akar jalar hingga sulit ditembus. Pohon sagu sebagai penghasil makanan pokok, tumbuh hampir merata disetiap lokasi. Didalannya hidup berbagai jenis fauna dan flora seperti, babi hutan, kadal, tikus, bajing terbang, kuskus, dan lain-lain. Serta reptile biawak maupun ular dan burung cendrawasih. Disamping aliran sungai hidup puluhan binatang air seperti, ikan. Kepiting, buaya, kerang, dan kura-kura. Perkampungan Asmat yang terletak di hulu sungai yang terdiri dari dua jenis rumah yaitu, rumah YEUW (rumah bujang) dan CEM (rumah keluarga) selain itu juga dikenal rumah BIVAK yang sering dibangun ditengah hutan sagu serai tempat istirahat. Setiap laki-laki Asmat memiliki keterampilan menebang dan mangukir pohon sagu dan mangurai teknik membuat api secara tradisional.
D.     Sistem kekeluargaan suku Asmat
            Pada jaman dulu suku Asmat suka berpindah-pindah tempat tinggal. Namun sekarang hal itu tidak terjadi lagi. Tetapi mereka masih tetap lebih suka tinggal di tempat yang jauh, dengan tujuan untuk menghindari serangan dari musuh atau suku lain. Dalam sistem keluarga suku Asmat menganut paham monogami, namun ada pula yang poligami. Pasangan yang telah menikah biasanya tinggal di tempat istri yang berasal dari pihak ibu.
            Di setiap desa hidup sekitar 100 sampai 1000 jiwa. Mereka tinggal di rumah besar yang dinamakan dengan bujang. Dalam satu rumah bujang ada dua atau tiga keluarga yang hidup bersama dan berdampingan. Selain sebagai tempat tinggal, rumah bujang juga sering digunakan untuk keperluan upacara yang bersifat religi atau keagamaan

E.      Mata Pencariannya
a.       Kehidupan sehari-hari
            Mata pencaharian hidup orang Asmat di daerah pantai adalah meramu sagu, berburu binatang kecil, dan mencari ikan disungai, danau, maupun pinggir pantai. Mereka juga menanam buah-buahan,
b.      Kehidupan di perkampungan
            Berburu dan menangkap ikan. Dalam masyarakat Asmat, kaum wanita yang bekerja mencari dan mengumpulkan bahan makan serta mengurus anak-anak. Ini sudah membudaya dalam kehidupan mereka karena kaum pria dahulunya sering disibukkan dengan berperang.

F.      Bahasa
            Bahasa-bahasa yang digunakan orang Asmat termasuk kelompok bahasa yangoleh para ahli linguistik disebut sebagai Language of the Southern Division,bahasa-bahasa bagian selatan Irian Jaya. Bahasa ini pernah dipelajari dan digolongkan oleh C.L Voorhoeve (1965) menjadi filum bahasa-bahasa Irian(Papua) Non-Melanesia. 

G.     Status dan Peran
            Dalam kehidupan orang Asmat, peran kaum laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Kaum laki-laki memiliki tugas menebang pohon dan membelah batangnya. Pekerjaan selanjutnya, seperti mulai dari menumbuk sampai mengolah sagu dilakukan oleh kaum perempuan. Secara umumnya, kaum perempuan yang bertugas melakukan pencarian bahan makanan dan menjaringikan di laut atau di sungai. Sedangka kaum laki-laki lebih sibuk dengan melakukan kegiatan perang antar clan atau antar kampung. Kegiatan kaum laki -laki juga lebih terpusat di rumah bujang.

H.     Lembaga pernikahan
            Sistem kekerabatan orang Asmat yang mengenal sistem clan itu mengatur pernikahan berdasarkan prinsip pernikahan yang mengharuskan orang mencarijodoh di luar lingkungan sosialnya, seperti di luar lingkungan kerabat, golongansosial, dan lingkungan pemukiman Garis keturunanditarik secara patrilineal (pria), dengan adat menetap sesudahmenikah yang virilokal. Adat virilokal adalah yang menentukan bahwasepasang suami-istri diharuskan menetap di sekitar pusat kediaman kaumkerabat suami.

I.        Sistem Kepercayaan Orang Asmat
            Orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Dalam keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan.
            Pada dasarnya perubahan kebudayaan yang terjadi di dalam masyarakat terjadi karena adanya sesuatu yang kurang memuaskan bagi masyarakat. Maka masyarakat dengan sengaja mengadakan perubahan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan zaman. Perubahan kebudayaan dapat terjadi karena adanya faktor baru yang lebih memuaskan bagi masyarakat.

Adapun faktor-faktor yang mendorong terjadinya perubahan kebudayaan antara lain;
1) Akulturasi
2) Asimilasi
3) Inovasi
4) Difusi

            Istilah akulturasi atau culture contact (kontak kebudayaan) mempunyai pengertian proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu di hadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan di olah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
            Misalnya gerak migrasi, gerak perpindahan dari suku suku bangsa di muka bumi. Migrasi tentu menyebabkan pertemuan antara kelompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda-beda dan akibatnya ialah bahwa individu-individu dalam kelompok-kelompok itu diharapkan dangan unsur-unsur kebudayaan asing.
            Proses akulturasi sudah ada sejak dulu kala dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses akulturasi yang mempunyai sifat khusus baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa di Eropa Barat mulai menyebar ke daerah lain di muka bumi dan mulai mempengaruhi masyarakat di muka bumi ini.
            Bersama dengan perkembangan pemerintah-pemerintah jajahan di semua benua dan daerah di luar Eropa, berkembang pula berbagai usaha penyebaran agama Nasrani. Akibat dari proes yang besar ini pada masa sekarang hampir tidak ada suku bangsa yang yang terhindar dari pengaruh unsur unsur kebudayaan Eropa itu.

Bangsa Indonesia paling tidak telah mengalami tiga kontak kebudayaan asing yang besar yaitu sebagai berikut.
a) Kontak dengan kebudayaan Hindu-Buddha pada zaman kuno (abad ke- 1-15).
b) Kontak dengan kebudayaan Islam pada zaman madya (abad ke- 15-17).
c) Kontak dengan kebudayaan Barat pada zaman baru (abad ke-17-20).
Bentuk-bentuk dari kontak kebudayaan yang menimbulkan proses akulturasi antara lain:
1) Kontak dapat terjadi antara seluruh masyarakat seluruh masyarakat atau antara bagian-bagian saja dalam masyarakat, dapat juga terjadi antara antara individu-individu dari dua kelumpok.

2) Kontak dapat pula diklasifikasikan antara golongan yang bersahabat dan golongan yang bermusuhan.
3) Kontak dapat pula timbul antara masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang dikuasai secara politik atau ekonomi.
4) Kotak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang:
a) sama besarnya
b) berbeda besarnya
5) kontak kebudayaan dapat terjadi antara aspek-aspek materiil dan yang non materiil dari kebudayaan yang sederhana dengan kebudayaan yang sederhana dengan kebudayaan yang kompleks dan antara kebudayaan yang kompleks pula.

Contoh akulturasi Indonesia- Hindu/buddha adalah masuknya epos ramayana atau mahabarata dalam cerita wayang. Contoh lain adalah adanya beberapa arsitektur candi dalam bangunan keagamaan di Indonesia. Contoh akulturasi Indonesia-Islam adalah mesuknya sastra dan kesustraan Arab dalam kesustraan Indonesia. Contoh lain adalah masuknya unsur arsitektur masjid dari Timur Tengah yang melengkapi bangunan keagamaan di Indonesia.
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.

Kesimpulan
                Banyak hal lain yang dapat kita ketahui setelah menelaah lebih lanjut mengenaikehidupan orang Asmat yang ada di Indonesia ini. Banyaknya orang asingmelalui bukunya yang telah mengungkapkan bagaimana kehidupan masyarakatAsmat pada jaman dahulu menandakan bahwa orang Asmat memiliki ciri khastertentu. Hal itu dapat dilihat dari adanya keahlian yang dimiliki masyarakatAsmat (wow-ipits/ pengukir Asmat)dalam hal mengukir dan memahat sehinggamenghasilkan benda-benda seni yang indah dan mengagumkan. Walaupunhanya menggunakan alat-alat yang sederhana, mereka tetap dapat menghasilkankarya yang indah. Di balik kekaguman itu, mungkin tertanam dalam pikiran masyarakat ba hwasuku Asmat adalah suku yang primitif, manusia kanibal yang suka mengayaukepala orang -orang luar di sekitarnya. Kebiasaan papis dianggap sebagaikegiatan seksual yang tidak bermoral. Namun semua itu hanyalah sejarah bagimasyarakat Asmat pada saat ini.Saat ini masyarakat Asmat lebih terkenal dengan hasil karyanya dalam bidangseni pahat dan ukir. Semua kebudayaan yang dimiliki oleh orang Asmatmerupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia ini 


Sabtu, 12 Februari 2011

Minggu Ke 3 - Gambaran Kepribadian Psikoanalisa Menurut Freud & Erikson

Pada pertengahan abad ke-19, yakni pada masa awal berdirinya psikologi -ai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, psikologi didominasi oleh gagasan dan upaya mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal melalui penelitian laboratorium dengan meng­gunakan metode introspeksi. Pada masa itu tercatat satu aliran psikologi disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt (1832-1920), seorang ahli psikologi Jerman yang mendirikan laboratorium-laboratorium psikologi pertama di Leipzig pada 1879. Karena pendirian laboratorium psikologinya (yang pertama di dunia) itu Wundt dianggap sebagai bapak psikologi modern, dan tahun 1879 dianggap sebagai tahun mulai berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, terlepas dari filsafat sebagai induknya maupun dari ketergantungannya kepada ilmu-ilmu lain seperti fisiologi dan fisika. Adapun ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundt itu adalah penekanannya pada analisis atas proses-proses kesadaran yang dipandang terdiri dari elemen-elemen dasar, serta upayanya menemukan hukum­-hukum yang membawahi hubungan di antara elemen-elemen kesadaran tersebut. Karena pandangannya yang elementalistik ini maka psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Di samping dipandang terdiri dari elemen-elemen dasar, kesadaran, oleh Wundt dan oleh ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia selalu diasalkan atau dianggap bersumber pada kesadaran.
Di tengah-tengah psikologi yang memprioritaskan penelitian atas kesadaran dan memandang kesadaran sebagai aspek utama dari kehidupanmental itu muncullah seorang dokter muda dari Wina dengan gagasannya yang radikal. Dokter muda yang dimaksud adalah Sigmund Freud, yang mengemukakan gagasan bahwa kesadaran itu anyalahbagian kecil saja dari kehidupan mental, sedangkan bagian yang terbesarnya adalah justru ketaksadaran atau alam tak sadar. Freud mengibaratkan alam sadar dan tak sadar itu dengan sebuah gunung es yang terapung di mana bagian yang muncul ke permukaan air (alam sadar) jauh lebih kecil daripada bagian yang tenggelam (alam tak sadar).
i samping gagasan tersebut di atas, masih banyak gagasan besar dan penting Freud lainnya yang menjadikan ia dipandang sebagai seorang yang revolusioner dan sangat berpengaruh bukan saja untuk bidang psikologi atau psikiatri, melainkan juga untuk bidang-bidang lain yang mencakup sosiologi, antropologi, ilmu polilik, filsafat, dan kesusastraan atau kese­nian. Untuk bidang psikologi, khususnya psikologi kepribadian dan lebih khusus lagi teori kepribadian, pengaruh Freud dengan psikoanalisa yang dikembangkannya dapat dilihat dari fakta, bahwa sebagian besar teoris kepribadian modern ckilain penyusunan teorinya tentang tingkah laku (kepribadian) menganibil sebagian, atau setidaknya mempersoalkan, gagasan-gagasan Freud. Dan psikoanalisa itu sendiri, sebagai aliran yang utama dalam psikologi, memiliki teori kepribadian yang gampangnya kita sebut teori kepribadian psikoanalitik (psychoanalitic theory of personali­ty), yang dalam bagian tulisan ini akan kita babas dengan menampilkan Freud berikut beberapa gagasan pokoknya.

A. RIWAYAT HIDUP SINGKAT FREUD DAN PSIKOANALISA
Sigmund Freud dilahirkan 6 Mei 1856 dari sebuah keluarga Yahudi di Freiberg, Moravia, sebuah kota kecil di Austria (kini menjadi bagian dari Cekoslowakia). Pada saat Freud berusia 4 tahun, keluarganya mengalami kemunduran ekonomi, dan ayah Freud membawa pindah Freud sekeluarga ke kota Wina. Setelah menamatkan sekolah menengahnya di kota Wina ini, Freud masuk fakultas kedokteran Universitas Wina dan lulus sebagai dokter pada tahun 1881. Dari catatan pribadinya diketahui bahwa Freud sesungguhnya tidak tertarik untuk menjalani praktek sebagai dokter, dan lebih tertarik kepada kegiatan penelitian ilmiah. Tetapi karena desakan ekonomi keluarga, dibina bersama Martha Bernays, istrinya yang dinikahi Freud pada tahun 1886, Freud akhirnya menjalani praktek yang tidak disukainya itu. Di sela-sela waktu prakteknya Freud masih menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan penelitian dan menulis. Adapun minat ilmiah utama Freud adalah pads neurologi, sebuah minat yang menyebabkan Freud menekuni penanganan gangguan-gangguan neurotik, k hususnya histeria.
Ketika Freud masih menjadi mahasiswa, seorang ahli saraf ternama dari Wina, Dr. Joseph Breuer, telah menggunakan metode khusus untuk menangani histeria, yakni metode hipnosis. Dengan jalan menghipnosis pasien histeria yang ditanganinya, Breuer berhasil membuktikan bahwa penyebab histeria yang diderita pasiennya itu adalah pengalaman­pengalaman traumatik tertentu dari si pasien. Salah satu kasus histeria yang paling terkenal dari Breuer adalah kasus Anna 0., yang ditangani Breuer dari tahun 1880 sampai 1882. Kurang-lebih pada waktu yang bersamaan, seorang ahli saraf terkemuka dari Rumah Sakit La Salpetriere, Paris, yakni Jean Martin Charcot, mengembangkan metode yang sama dengan yang digunakan Breuer. Dari kedua orang ini Freud belajar dan mempraktekkan metode hipnosis untuk menangani kasus-kasus histeria. Bahkan dengan Breuer, Freud sempat mengadakan kerja sama. Kerja sama mereka menghasilkan penanganan atas sejumlah kasus histeria yang dibukukan dengan judul Studien uber Hysterie (1895). Tetapi tidak lama setelah buku tersebut diterbitkan, Freud memisahkan diri serta mening­galkan metode yang digunakan oleh Breuer dan Charcot karena ia merasa tidak puss dengan prosedur dan basil yang dicapainya: Setelah mening­galkan metode hipnosis, Freud mencoba metode lain, yakni metode sugesti yang dipelajarinya dari Bernheim pada tahun 1889. Dan metode yang terakhir ini pun ternyata tidak memuaskan Freud, sehingga ia akhirnya mengembangkan dan menggunakan metode sendiri yang disebut metode asosiasi bebas (free association method). Berbeda dengan metode hipnosis yang menyadarkan diri pada anggapan bahwa pengalaman-pengalaman traumatik yang ada pada pasien histeria perlu dan hanya bisa diungkapkan dalam keadaan si pasien tidak sadar (di bawah pengaruh hipnosis), metode asosiasi bebas bertumpu pada anggapan bahwa pengalaman-pengalaman traumatik (pengalaman yang menyakitkan) yang dimiliki pasien hysteria itu bisa diungkapkan dalam keadaan sadar. (Dalam asosiasi bebas, pasin diminta untuk mengemukakan secara bebas hal-hal apa saja yang terlintas dalam pikirannya saat itu. Bagi terapeut, hal-hal hal yang kemukakan oleh pasiennya itu merupakan bahan untuk menggali dan mengungkap ingatan-ingatan atau pengalaman-pengalaman yang sifatnya traumatic dari alam tak sadar si pasien.) Hal yang penting dari pengembangan asosiasi bebas ini adalah, metode asosiasi bebas dengan prinsip atau anggapan yang mendasarinya telah membawa Freud kepada suatu kesimpulan bahwa ketaksadaran memiliki sifat dinamis, dan memegang peranan dalam ter­jadinya gangguan neurotik seperti histeria. (Di kemudian hari peranan ketaksadaran oleh Freud diperluas dan dipandang sebagai “kawasan terbesar” dari kehidupan psikis, yang di dalamnya terdapat suatu unsur atau sistem yang berisikan naluri-naluri. Dan keinginan-keinginan berasal dari naluri-naluri itu. Pads gilirannya, melalui mekanisme represi, keinginan-keinginan yang tidak atau sulit dipuaskan akan dikembalikan ke kawasan tak sadar ini, dipenjarakan bersama-sama dengan pengalaman­pengalaman tertentu yang sifatnya traumatic atau menyakitkan bagi in­dividu.) Selain itu, berbeda dengan Breuer, Charcot, Bernheim, dan terapeut-terapeut atau pars peneliti umumnya pads waktu itu, Freud mulai menempatkan data yang diperoleh dari kegiatan terapinya dalam kerangka psikologi, serta ia melihat aspek atau mekanisme yang terlibat dalam ke­jadian munculnya gangguan neurotik dari sudut psikologi, dan bukan dari sudut neurologi atau fisiologi. Dengan demikian, sejak Freud menempuh jalannya sendiri, mengembangkan gagasan dan metode terapinya sendiri, Freud sesurigguhnya tengah berada dalam usaha membangun landasan bagi ajaran psikoanalisanya yang unik; dan ternyata usahanya ini memang berhasil. Dapat dikatakan bahwa metode asosiasi bebas merupakan tong­gak yang menandai dimulainya psikoanalisa.
Di samping metode asosiasi bebas, pads periode awal dari psikoanalisa itu Freud juga mengembangkan analisis mimpi (dream analysis) atau penafsiran mimpi. Penafsiran mimpi ini diketnbangkan oleh Freud ber­dasarkan anggapannya bahwa isi mimpi merupakan simbol dari keinginan­keing;n4n atau pengalaman-pengalaman tertentu yang direpres di slam tak sadar. Dengan demikian, sebagaimana dikatakan oleh Freud, mimpi itu sendiri adalah via regia Oalan utama) menuju alam tak sadar. Artinya, melalui penafsiran atas sebuah mimpi, kits bisa mengetahui keinginan­keinginan atau pengalaman-pengalaman spa yang direpres oleh si pernim­pin di alam tak sadarnya. Itulah yang login dicapai Freud melalui penafsiran mimpi yang dikembangkannya. Adapun subjek Freud yang pertama dan sering digunakan untuk keperluan menguji ketepatgunaan metode penafsiran mimpinya tidak lain adalah dirinya sendiri. Dalam buku pertamanya yang diberi judul The Interpretation of Dreams (Die Traumdeutung, 1900), Freud menunjukkan bagaimana mimpi-mimpinya sendiri ia telah dan ia tafsirkan, sehingga daripada.nya ia memperoleh bahan yang berharga untuk memahami kehidupan psikis berikut kekuatan dan mekanisme-mekanisme yang terdapat di dalamnya. Melalui buku ini dan tiga buah buku lain yang menyusul kemudian, yang meliputi judul-judul Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on SeXuality (1905) dan Case of Dora (1905), Freud telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi psikoanalisa, sekaligus telah memperlihatkan dirinya sebagai seorang inovator yang jenius dengan gagasan-gagasan yang brilian.
Selain buku-buku tersebut di atas, masih banyak buku Freud lainnya yang menganut gagasan-gagasan brilian Freud yang tidak terbatas pada bidang psikologi dan psikopatologi, tetapi juga di bidang kebudayaan (mitologi), agama, dan kesenian khususnya kesusastraan. Buku-buku yang dimaksud antara lain Introductory Lectures on Psycho-analysis (1920), The Ego and the Id (1923), Future of an Illusion (1927), Civilization and Its Discontents (1930), New Introductory Lectures on Psycho-analysis (1933), dan An Outline of Psycho-analysis (baru diterbitkan pada tahun 1940). Kesemua buku tersebut dengan gagasan-gagasan yang termuat di dalamnya, menjadikan Freud banyak mengundang perhatian serta menarik minat sejumlah besar orang untuk mempelajari psikoanalisa dan menjadi pengikut Freud. Di antara orang-orang tersebut terdapat nama-nama terkenal seperti Alfred Adler, Carl Gustav Jung, Ernest Jones, A.A. Brill, Otto Rank, Sandor Ferenzci, dan Hans Sachs. Tetapi dua orang yang disebut terdahulu, Adler dan Jung, di kemudian hari memisahkan diri darilingkungan psikoanalisa akibat adanya perbedaan pandangan dengan Freud. Keduanya mengembangkan teori dan alirannya sendiri., Adler mengembangkan psikologi individual, sedangkan Jung mendirikan psikologi analitis. Perpisahan dengan dua orang yang diharapkan menjadi penerus dan pembela ajaran psikoanalisa ini bagi Freud merupakan suatu pukulan yang cukup hebat, sebab keduanya oleh Freud dipandang sebagai pengikut yang paling potensial dan berbakat. Akibatnya, Freud terpaksa harus menjadi pendekar tunggal dalam mengembangkan dan membela psikoanalisanya dari serangan para tokoh dan aliran psikologi lain sampai ia meninggal dunia pada tanggal 23 September 1939 di London, tempat ia melarikan diri dari kejaran pihak Nazi. Sungguhpun demikian, Freud telah berhasil menjadikan psikoanalisa satu aliran yang kuat, berpengaruh, dan tetap tegar dalam menghadapi serangan dari manapun. Di samping menunjukkan kekurangan-kekurangannya, banyaknya serangan dan upaya membongkar psikoanalisa juga menunjukkan bahwa psikoanalisa, sepeninggal pendirinya, tidak pernah diabaikan.
B. LATAR BELAKANG LAHIRNYA PSIKOANALISIS
Latar belakang lahirnya psiko analaisis adalah cabang nama yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya sebagai studi fungsi dan prilaku psikologis manusia. Pada mulanya psikoanalisis hanya dipergenukan dalam hubungan freud saja.
Dalam psikologi aliran psikoanalisa dianggap menjadi aliran pertama yang secara sistematis mengurai kualitas-kualitas kejiwaan, beserta dinamikanya untuk menerangkan kepribadian orang dan diterapkan dalam teknik psikoterapi. aliran ini berkembang pada tahun1890 oleh Simund Freud, seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis.Freud berhasil mengembangkan teorinya dari hasil studinya mengenai histeria yang menjadi bahan tulisannya”Studies in Histeria”. Freud berhasil membuat teori keperibadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga bagian yaitu : consciousness sebagai alam sadara , ambang sadar disebut preconsciousness dan unconsciousness sebagai alam bawah sadar . Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia. Karena dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Sedangkan Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, yang berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas.
Freud mengembangkan konsep struktur mind dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, seperti : identifikasi, proyeksi, fiksasi, agesi regresi, represi.
Stuktur kepribadian menurut Sigmund freud
Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagii stuktur mind menjadi 3 bahagian yaitu:
1. Alam sadar
2. Ambang sadar
3. Alam bawah sadar
Dari ketiga sapek kesadaran tersebut adalah yang paling dominan adalah alam bawah sadar dalam menentukan prilaku manusia didalam uncuisious tersimpan ingatann masa kecil, energy psikis yang besar, dan instink. Amabang sadar berperan sebagai jembatan anatara alam sadar dengan alam bawah sadar.
Dalam teori psiko analisis stuktur kepribadian manusia terbagi atas id. Ego, dan super ego.
1. id, merupakan resvoir energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menjelaskan kedua system yang lain. Dalam Id ada yang dinamakan prinsip kerja, yaitu prinsip kenikmatan (pleasure prinsiple).
Didalamnya terdapat dua proses yakni : a. tindakan reflek b. proses primer
a. Tindakan reflek adalah reaksi-reaksi otomatik dan bawaan. Seperti bersin dan berkedip.
b. Proses primer adalah hal yang menyangkut suatu reaksi psikologis, yang sedikit lebih rumit dia berusaha menghentikan tegangan dengan membentuk khayalan tentang objek menghilangkan tegangan tersebut. Seperti : menyediakan kahayalan makan pada orang yang lapar
2. ego, timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan kenyataan objektif. Perbedaan pokok antara Id dan Ego adalah bahwa Id hanya mengenal kenyataan subjektif jiwa. Sedangkan ego membedakan anatara hal-hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat didunia luar.
3. superego, adalah perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat sebagaimana yang di terangkan orang tua pada anaknya. Super ego adalah wewenang moral dari kepribadian (wasit tingkah laku).
Fungsi-fungsi pokok superego
a. merintangi implus-implus id, terutama implus-implus seksual dan agresif.
b. Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realitas dengan tujuan moralitas.
c. Mengajar kesempurnaan
Dinamika kepribadian
Titik hubung atau jembatan energi tubuh dan energi kepribadian adalah id serta insting-isntingnya.
1. Insting
Insting didefinisikan sebagai perwujudan psikiologis dari suatu sumber rangsangan somatic dalam yang dibawa sejak lahir. Perwujudan psikologisnya yang dinamakan hasrat sedangkan jasmaninya disebut kebutuhan. Insting mempunyai empat ciri khas :
a. Sumber
b. Tujuan
c. Objek
d. mpetus
Menurut Freud insting dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yakni:
> insting-insting hidup
> insting-insting mati
2. Distribusi dan penggunaan energi psikis.
Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara energi psikis didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan superego. Oleh karena jumlah energi terbatas, maka akan terjadi persaingan di ketiga system itu dalam menggunakan energi tersebut.
Dinamika kepribadian terdiri dari interaksi daya-daya pendorong kataksis-kataksis dan daya-daya penahan anti kataksis-kataksis.


3. kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan tegang. Fungsi kecemasan adalah memperingatkan sang pribadi akan adanya bahaya.
Freud membedakan tiga kecemasan yakni :
1. kecemasan realitas
2. kecemasan neurotic
3. kecemasan moral / perasaan-perasaan bersalah
Dinamika kperibadian
1. id
Fungsi satu-satunya dari id adalah untuk mengusahakan segera tersalurkannya kumpulan-kumpulan energi atau ketegangan, yang dicurahkan dalam jasad oleh rangsangan-rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar.Fungsi id ini menunaikan prinsip kehidupan yang asli atau yang pertama yang dinamakan prinsip kesenangan (pleasure principle) Id adalah dunia kenyataan yang subyektif dalam mana pengejaran kesenangan dan pencegahan penderitaan merupakan satu-satunya perbuatan yang berarti
2. ego
Kedua proses yang dilalui id untuk meredakan ketegangan, yaitu gerak-gerik impulsive dan pembentukan gambaran (pemuasan keinginan) tidak cukup untuk mencapai tujuan evolusi yang besar menuju kelangsungan dan perbiakan. Hubungan timbale balik antara seseorang dengan dunia memerlukan pembentukan suatu system rohaniah baru, yaitu ego. ego dikuasai oleh prinsip kenyataan (reality principle).
3. Super ego
Superego adalah cabang moril atau cabang keadilan dari kepribadian. Superego lebih mewakili alam ideal daripada alam nyata. Superego terdiri dari dua anak system, ego ideal dan hati nurani.
C. Perkembangan kepribadian menurut Sigmund
Tahap perkembangan kepribadian menurut freud
1. Tahap Oral (mulut)
Tahapan ini berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan. Mulut merupakan sumber kenikmatan utama. Dua macam aktivitas oral di sini, yaitu menggigit dan menelan makanan, merupakan prototype bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Kenikmatan yang diperoleh dari inkorporasi oral dapat dipindahkan ke bentuk-bentuk inkorporasi lain, seperti kenikmatan setelah memperoleh pengetahuan dan harta. Misalnya, orang yang senang ditipu adalah orang yang mengalami fiksasi pada taraf kepribadian inkorporatif oral. Orang seperti itu akan mudah menelan apa saja yang dikatakan orang lain.
2. Tahap Anal
Tahapan ini berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun. Kenikmatan akan dialami anak dalam fungsi pembuangan, misalnya menahan dan bermain-main dengan feces, atau juga senang bermain-main dengan lumpur dan kesenangan melukis dengan jari.
3. Tahap Phallic
Tahapan ini berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun. Tahap ini sesuai dengan nama genital laki-laki (phalus), sehingga meupakan daerah kenikmatan seksual laki-laki. Sebaliknya pada anak wanita merasakan kekurangan akan penis karena hanya mempunyai klitoris, sehingga terjadi penyimpangan jalan antara anak wanita dan laki-laki. Lebih lanjut, pada tahap ini anak akan mengalami Oedipus complex, yaitu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis kelamin dnegannya. Misalnya anak laki-laki akan mengalami konflik oedipus, ia mempunyai keinginan untuk bermain-main dengan penisnya. Dengan penis tersebut ia juga ingin merasakan kenikmatan pada ibunya.
4. Tahap Latency
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira usia 6 tahun dan masa pubertas. Merupakan tahap yang paling baik dalam perkembangan kecerdasan (masa sekolah), dan dalam tahap ini seksualitas seakan-akan mengendap, tidak lagi aktif dan menjadi laten.
5. Tahap Genital
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira dari masa pubertas dan seterusnya. Bersamaan dengan pertumbuhannya, alat-alat genital menjadi sumber kenikmatan dalam tahap ini, sedangkan kecenderungan-kecenderungan lain akan ditekan.


Sumber :
Sarwono,Prof. Dr. Sarlito. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi.Jakarta:PT Bulan Bintang.2000
Semian, Yustinus.Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud.Yogyakarta:Kanisius.2006




ERIK H. ERIKSON
Erikson, sebagaimana Anna Freud, Hartmann, White dan ahli analisis ego kontemporer lainnya yang lebih terfokus dengan ego daripada dengan id dan superego. Erikson melihat ego sebagai perwujudan “kapasitas manusia untuk mempersatukan pengalaman dan tindakannya dalam beradaptasi” (1963), dan dia membuat ego sebagai nakhoda daripada dua sistem lainnya. Erikson menerima dinamika seksual-biologis sebagaimana anggapan dasar dari Freud. Satu kontribusi utama dari Erikson bagaimanapun telah ditegaskan pentingnya interaksi individual dengan lingkungan sosial dalam bentuk kepribadian; ego merupakan “akar dalam organisasi sosial”.
EGO KREATIF
Bangunan dan perluasan pekerjaan Sigmund Freud, Anna Freud, dan Heinz Hartmann, Erikson menggambarkan bahwa ego memiliki kreativitas yang berkualitas. Ego tidak hanya berusaha untuk beradapatasi dengan lingkungan, tetapi juga menemukan solusi kreatif setiap menemukan masalah baru yang menimpanya. Kontribusi terbesar dari Erikson adalah argumennya yang menyatakan bahwa sifat alamiah ego ditentukan tidak hanya oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari dalam (inner forces), tetapi pengaruh sosial dan budaya. Penelitian Erikson dilakukan pada budaya Indian Amerika dengan observasinya tentang budaya-budaya lain pada orang-orang Eropa dan India. Banyak dari “kualitas ego” sebagaimana yang akan kita lihat muncul pada setiap tahap perkembangan yang mencerminkan adanya pengaruh faktor-faktor sosial dan budaya. Walaupun Erikson yakin bahwa kualitas-kualitas itu merupakan “kepercayaan dasar” dan “inisiatif” yang ada dalam format yang masih belum sempurna pada tahap sebelumnya, dia mempertahankan bahwa kepercayaan dasar dan inisiatif berkembang dan menjadi matang hanya melalui pengalaman dengan lingkungan sosial..
CARL GUSTAV JUNG
Doktrin Jung yang dikenal dengan psikologi analitis (analytical psychology), sangat dipengaruhi oleh mitos, mistisisme, metafisika, dan pengalaman religius (Yadi Purwanto, 2003: 121). Ia percaya bahwa hal ini dapat memberikan keterangan yang memuaskan atas sifat spiritual manusia, sedangkan teori-teori Freud hanya berkecimpung dengan hal-hal yang sifatnya keduniaan semata. (Carl Gustav Jung, 1989: 10.)
Jung mendefinisikan kembali istilah-istilah psikologi yang dipakai pada saat itu, khususnya yang dipakai oleh Freud. Ego, menurut Jung, merupakan suatu kompleks yang terletak di tengah-tengah kesadaran, yakni keakuan.
Istilah Freud lainnya yang didefinisikannya kembali adalah libido. Bagi Jung, libido bukan hanya menandakan energi seksual, tetapi semua proses kehidupan yang penuh energi: dari aktivitas seksual sampai penyembuhan (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 92).
Id, ego, dan superego, adalah istilah istilah yang tak pernah dipakai oleh Jung. Sebagai gantinya, ia menggunakan istilah conciousness (kesadaran), personal unconciousness (ketidaksadaran pribadi), dan collective unconciousness (ketidaksadaran kolektif).
Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa teori psikoanalisa kontemporer menekankan pada kemampuan ego untuk memanage kemampuan manusia dalam belajar terhadap lingkungan. Teori ini menjelaskan bahwa kekuatan ego tidak hanya berasal dari inner ego. Tetapi juga ditentukan oleh situasi sosioklutural yang berada disekitar manusia. Kemampuan ego ini yang sering kita sebut sebagai ego kreativ dalam belajar. Dari tinjauan seperti ini kemudian bisa diambil sebuah benang merah jika kemampuan ego kreativ tidak hanya berdasarkan oleh naluri instingtif dari dalam diri manusia. Namun ego ini diperoleh dari hasil belajar dari situasi sosiokultural dari lingkungan.
B. STRUKTUR KEPRIBADIAN MANUSIA
1. Menurut CARL GUSTAV JUNG
- Conciousness dan personal unconciousness sebagian dapat diperbandingkan dengan id dan ego, tetapi terdapat perbedaan yang sangat berarti antara superego-nya Freud dengan collective unconciousness, karena Jung percaya bahwa yang terakhir ini adalah wilayah kekuatan jiwa (psyche) yang paling luas dan dalam, yang mengatur akar dari empat fungsi psikologis, yaitu sensasi, intuisi, pikiran, dan perasaan. Selain itu, juga mengandung warisan memori-memori rasial, leluhur dan historis.
- Archetype dan Autonomous Complex, Dalam psikologi Jung, ketidaksadaran kolektif dapat terdiri atas komponen komponen dasar kekuatan jiwa yang oleh Jung disebut sebagai archetype. Archetype merupakan konsep universal yang mengandung elemen mitos yang luas. Konsep archetype ini sangat penting dalam memahami simbol mimpi karena ia menjelaskan kenapa ada mimpi yang memiliki makna universal, sehingga bisa berlaku bagi semua orang. Dan ada pula mimpi yang sifatnya pribadi dan hanya berlaku untuk orang yang bermimpi saja. Jung memandang archetype ini sebagai suatu autonomous complex, yaitu suatu bagian dari kekuatan jiwa yang melepaskan diri dan bebas dari kepribadian. (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 92)
- Persona adalah wajah yang ditampilkan oleh individu. Persona merupakan kepribadian yang sadar, yang dapat diidentikkan dengan ego-nya Freud. Dalam mimpi, ia muncul dalam bentuk sesosok figur yang melambangkan aku dalam suasana tertentu. Kadang-kadang, dapat berupa seorang tua yang keras, wanita bijak, orang gagah, badut, atau anak kecil. Inilah perilaku dari dari pikiran penghasil mimpi kita. Kadang kala, dalam mimpi, hal ini akan diimbangi dengan sebuah karakter yang memainkan peran yang berlawanan. Contohnya, seseorang yang dalam keadaan sadar sebagai sosok yang bermoral, ketika di dalam mimpi bisa jadi berupa seorang bajingan atau sebaliknya.
- Bayang-bayang, Sisi kuat dari kepribadian seorang individu biasanya mendominasi seluruh persona. Aspek-aspek yang lebih lemah dominasinya hanya menjadi bayangbayang diri. Jung mengistilahkannya dengan autonomous complex atau archetype yang lain, yang muncul ke permukaan di dalam mimpi. Kadang-kadang, naluri dan desakan diwujudkan dalam bentuk bayang-bayang, bersama perasaan perasaan negatif dan destruktif. Ia dapat berupa satu sosok yang mengancam, yang menyamar sebagai seseorang yang tidak disukai oleh orang-orang yang bermimpi.
- Anima dan Animus, Anima dan animus adalah istilah yang dibuat oleh Jung untuk menggambarkan karakteristik dari seks yang berlawanan, yang ada dalam setiap diri laki-laki dan perempuan. Anima adalah sifat kewanitaan yang tersembunyi di dalam diri laki-laki, sedangkan animus adalah sifat kelaki-lakian yang tersembunyi dalam diri perempuan (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 94-96). Anima adalah pusat kasih sayang, emosi, naluri, dan intuisi dari sisi kepribadian laki-laki. Sedangkan Animus adalah sisi praktis, independen, percaya diri, dan keberanian mengambil resiko dari kepribadian wanita.
2. Menurut Erik H. Erikson
Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego ini dapat menemukan menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan. Ego bukan menjadi budak lagi, namun dapat mengatur id, superego dan dibentuk oleh konteks cultural dan historik. Berikut adalah ego yang sempurna menurut Erikson
1. Faktualitas adalah kumpulan fakta, data, dan metoda yang dapat diverifikasi dengan metoda kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan fakta dan data hasil interaksi dengan lingkungan.
2. Universalitas berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan (sens of reality) yang menggabungkan hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta, mirip dengan pronsip realita dari Freud.
3. Aktualitas adalah cara baru dalam berhubungan satu dengan yang lain, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Erikson, ego sebagian bersifat taksadar, mengorganisir dan mensitesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang. Dia menemukan tiga aspek ego yang saling berhubungan, yakni
1. Body Ego: Mengacu ke pengalaman orang dengan tubuh/ fisiknya sendiri.
2. Ego Ideal: Gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal.
3. Ego Identity: Gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial.
Teori Ego dari Erikson memandang bahwa perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik. Bagi organisme, untuk mencapai perkembangan penuh dari struktur biologis potensialnya, lingkungan harus memberi stimulasi yang khusus. Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu-anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego.
C. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN MENURUT TEORI PSIKOANALISA KONTEMPORER
1. Prinsip Epigenetik
Menurut Erikson, ego berkembang melalui berbagai tahap kehidupan mengikuti prinsip epigenetik, istilah yang dipinjam dari embriologi. Perkembangan epigenetik adalah perkembangan tahap demi tahap dari organ-organ embrio. Ego berkembang mengikuti prinsip epigenetik, artinya tiap bagian dari ego berkembang pada tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu (yang disediakan oleh hereditas untuk berkembang). Tahap perkembangan yang satu terbentuk dan dikembangkan di atas perkembangan sebelumnya (tetapi tidak mengganti perkembangan tahap sebelumnya itu).
2. Enam Pokok Pikiran Teori Perkembangan Psikososial Erikson
a. Prinsip Epigenetik: Perkembangan kepribadian mengiuti prinsip epigenetik.
b. Interaksi Bertentangan: Di setiap tahap ada konflik psikososial, antara elemen sintonik (syntonic = harmonious) dan distonik (dystonic = disruptive). Kedua elemen itu dibutuhkan oleh kepribadian.
c. Kekuatan Ego: Konflik psikososial di setiap tahap hasilnya akan mempengaruhi atau mengembangkan ego. Dari sisi jenis sifat yang dikembangkan, kemenangan aspek sintonik akan memberi ego sifat yang baik, disebut Virtue. Dari sisi enerji, virtue akan meningkatkan kuantitas ego atau kekuatan ego untuk mengatasi konflik sejenis, sehingga virtue disebut juga sebagai kekuatan dasar (basic strengh).
d. Aspek Somatis: Walaupun Erikson membagi tahapan berdasarkan perkembangan psikososial, dia tidak melupakan aspek somatis/biologikal dari perkembangan manusia.
e. Konflik dan Peristiwa Pancaragam (Multiplicity of Conflict and Event): Peristiwa pada awal perkembangan tidak berdampak langsung pada perkembangan kepribadian selanjutnya. Identitas ego dibentuk oleh konflik dan peristiwa masa lalu, kini, dan masa yang akan datang.
f. Di setiap tahap perkembangan, khususnya dari masa adolesen dan sesudahnya, perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas (identity crisis), yang dinamakan Erikson “titik balik, periode peningkatan bahaya dan memuncaknya potensi”.

3. Pola Perkembangan Manusia
a. Fase Bayi (0-1 Tahun)
Pararel dengan Fase Oral dari Freud, namun bagi Erikson kegiatan bayi tidak terikat dengan mulut semata; bayi adalah saat untuk memasukkan (incorporation), bukan hanya melalui mulut (menelan) tetapi juga dari semua indera. Tahap sensori oral ditandai oleh dua jenis inkorporasi: mendapat (receiving) dan menerima (accepting). Tahun pertama kehidupannya, bayi memakai sebagian besar waktunya untuk makan, eliminasi (buang kotoran), dan tidur. Ketika ia menyadari ibu akan memberi makan/minum secara teratur, mereka belajar dan memperoleh kualitas ego atau identitas ego yang pertama, perasaan kepercayaan dasar (basic trust). Bayi harus mengalami rasa lapar, haus, nyeri, dan ketidaknyamanan lain, dan kemudian mengalami perbaikan atau hilangnya kondisi yang tidak menyenangkan itu. Dari peristiwa itu bayi akan belajar mengharap bahwa hal yang menyakitkan ke depan bisa berubah menjadi menyenangkan. Bayi menangkap hubungannya dengan ibu sebagai sesuatu yang keramat (numinous).
b. Fase Anak-Anak (1-3 Tahun)
Dalam teori Erikson, anak memperoleh kepuasan bukan dari keberhasilan mengontrol alat-alat anus saja, tetapi juga dari keberhasilan mengontrol fungsi tubuh yang lain seperti urinasi, berjalan, melempar, memegang, dan sebagainya. Pada tahun kedua, penyesuaian psikososial terpusat pada otot anal-uretral (Anal-Urethral Muscular); anak belajar mengontrol tubuhnya, khususnya yang berhubungan dengan kebersihan. Pada tahap ini anak dihadapkan dengan budaya yang menghambat ekspresi diri serta hak dan kewajiban. Anak belajar untuk melakukan pembatasan-pembatasan dan kontrol diri dan menerima kontrol dari orang lain. Hasil mengatasi krisis otonomi versus malu-ragu adalah kekuatan dasar kemauan. Ini adalah permulaan dari kebebasan kemauan dan kekuatan kemauan (benar-benar hanya permulaan), yang menjadi ujud virtue kemauan di dalam egonya. Pada tahap ini pola komunikasi mengembangkan penilaian benar atau salah dari tingkah laku diri dan orang lain, disebut bijaksana (judicious).
c. Usia Bermain (3-6 Tahun)
Pada tahap ini Erkson mementingkan perkembangan pada fase bermain, yakni; identifikasi dengan orang tua (odipus kompleks), mengembangkan gerakan tubuh, ketrampilan bahasa, rasa ingin tahu, imajinasi, dan kemampuan menentukan tujuan. Erikson mengakui gejala odipus muncul sebagai dampak dari fase psikososeksual genital-locomotor, namun diberi makna yang berbeda. Menurutnya, situasi odipus adalah prototip dari kekuatan yang abadi dari kehidupan manusia. Aktivitas genital pada usia bermain diikuti dengan peningkatan fasilitas untuk bergerak. Inisiatif yang dipakai anak untuk memilih dan mengejar berbagai tujuan, seperti kawain dengan ibu/ayah, atau meninggalkan rumah, juga untuk menekan atau menunda suatu tujuan. Konflik antara inisiatif dengan berdosa menghasilkan kekuatan dasar (virtue) tujuan (purpose). Tahap ini dipenuhi dengan fantasi anak, menjadi ayah, ibu, menjadi karakter baik untuk mengalahkan penjahat.
d. Usia Sekolah (6-12 Tahun)
Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini keingintahuan menjadi sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence). Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat memakain enerjinya untuk mempelajari teknologi dan budayanya serta interaksi sosialnya. Krisis psikososial pada tahap ini adalah antara ketekunan dengan perasaan inferior (industry – inveriority). Dari konflik antar ketekunan dengan inferiorita, anak mengembangkan kekuatan dasar: kemampuan (competency). Di sekolah, anak banyak belajar tentang sistem, aturan, metoda yang membuat suatu pekrjaan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.
e. Adolesen (12-20 Tahun)
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting diantara tahap perkembangan lainnya, karena orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup baik. Bagi Erikson, pubertas (puberty) penting bukan karena kemasakan seksual, tetapi karena pubertas memacu harapan peran dewasa pada masa yang akan datang. Pencarian identitas ego mencapai puncaknya pada fase ini, ketika remaja berjuang untuk menemukan siapa dirinya. Kekuatan dasar yang muncul dari krisis identitas pada tahap adolesen adalah kesetiaan (fidelity); yaitu setia dalam beberapa pandangan idiologi atau visi masa depan. Memilih dan memiliki ediologi akan memberi pola umum kehidupan diri, bagaimana berpakaian, pilihan musik dan buku bacaan, dan pengaturan waktu sehari-hari.
f. Dewasa Awal (20-30 Tahun)
Pengalaman adolesen dalam mencari identitas dibutuhkan oleh dewasa-awal. Perkembangan psikoseksual tahap ini disebut perkelaminan (genitality). Keakraban (intimacy) adalah kemampuan untuk menyatukan identitas diri dengan identitas orang lain tanpa ketakutan kehilangan identitas diri itu. Cinta adalah kesetiaan yang masak sebagai dampak dari perbedaan dasar antara pria dan wanita. Cinta selain di samping bermuatan intimasi juga membutuhkan sedikit isolasi, karena masing-masing partner tetap boleh memiliki identitas yang terpisah. Ritualisasi pada tahap ini adalah Afiliasi, refleksi dari kenyataan adanya cinta, mempertahankan persahabatan, ikatan kerja.
g. Dewasa (30-65 Tahun)
Tahap dewasa adalah waktu menempatkan diri di masyarakat dan ikut bertanggung jawab terhadap apapun yang dihasilkan dari masyarakat. Kualitas sintonik tahap dewasa adalah generativita, yaitu penurunan kehidupan baru, serta produk dan ide baru. Kepedulian (care) adalah perluasan komitmen untuk merawat orang lain, merawat produk dan ide yang membutuhkan perhatian. Kepedulian membutuhkan semua kekuatan dasar ego sebelumnya sebagai kekuatan dasar orang dewasa. Generasional adalah interaksi antara orang dewasa dengan generasi penerusnya bisa berupa pemberian hadiah atau sanjungan, sedangkan otoritisme mengandung pemaksaan. Orang dewasa dengan kekuatan dan kekuasaannya memaksa aturan, moral, dan kemauan pribadi dalam interaksi.
h. Usia Tua (>65 Tahun)
Menjadi tua sudah tidak menghasilkan keturunan, tetapi masih produktif dan kreatif dalam hal lain, misalnya memberi perhatian/merawat generasi penerus – cucu dan remaja pada umumnya. Tahap terakhir daroi psikoseksual adalah generalisasi sensualitas (Generalized Sensuality): memperoleh kenikmatan dari berbagai sensasi fisik, penglihatan, pendengaran, kecapan, bau, pelukan, dan juga stimulasi genital. Banyak terjadi pada krisis psikososial terakhir ini, kualita distonik “putus asa” yang menang. Orang dengan kebijaksanaan yang matang, tetap mempertahankan integritasnya ketika kemampuan fisik dan mentalnya menurun. Pada tahap usia tua, ritualisasinya adalah integral; ungkapan kebijaksanaan dan pemahaman makna kehidupan. Interaksi yang tidak mementingkan keinginan dan kebutuhan duniawi.
D. PANDANGAN TENTANG PERILAKU BERMASALAH
Para ahli psikoanalisa kontemporer menganggap bahwa ego sebagai slah satu struktur dasar kepribadian manusia memiliki unsur dominan dalam proses kehidupan. Ego ini diperoleh dari proses belajar secara kreatif terhadap kondisi sosiokultural disekitarnya. Nah dari sisi ini kemudian akan muncul sebuah masalah ketika apa yang dipelajari ego dari lingkungan ternyata mengalami konflik dengan inner insting dari dalam dirinya. Terlepas dari super ego yang mampu mengontrol kegiatan ego, ego akan cenderung membuat keputusan sendiri berdasarkan kemampuan dari hasil belajar yang dimilikinya. Dari sini kemungkinan masalah yang akan muncul antara lain adalah:
a. Over Confidence dan Low Confidence
Pada tahun pertama kehidupan, seorang bayi menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk makan, buang kotoran, dan tidur. Hal ini merupakan kecakapan untuk melakukan segala sesuatu dalam kedamaian dan rileks yang memberikan signal yang muncul dari kualitas ego pertama, memiliki kepercayaan dasar. Sang bayi juga belajar bahwa walaupun ibunya pergi, tetapi dia yakin bahwa ibunya akan kembali. Bayi mulai cakap untuk mempercayai dirinya dan menghubungkan kepercayaan dirinya dengan realitas, sebagai suatu perasaan identitas ego yang bersifat elementer. Dalam lingkungan yang paling baik, Erikson (1968) mengatakan bahwa sedikit demi sedikit tetapi pasti pemisahan ibu dengan bayi merupakan perkenalan suatu “hal yang suram tapi kenangan indah untuk surga yang hilang”. Perasaan ini bagaimanapun juga merupakan bentuk dasar dari dasar adanya ketidakpercayaan (basic mistrust) dan juga berkembang selama tahap ini. Hubungan yang sehat dengan ibu “menggabungkan kepekaan dari kebutuhan individual sang bayi dan menguatkan perasaan sifat dapat dipercaya secara pribadi” (Erikson, 1963).
b. Kemandirian (Otonomi) Vs Rasa Malu Dan Keraguan
Keadaan krisis merupakan sebuah peluang kemandirian/ otonomi untuk melawan kecenderungan merasa malu dan ragu-ragu dari seseorang yang menjadi kekuatan umum selama tahun kedua dan ketiga kehidupan. Keadaan krisis sebagai awal untuk menggerakkan dan mendorong diri, anak harus belajar apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dikerjakan. Secara berangsur-angsur anak belajar mengontrol dirinya sendiri menerima perasaan bangga dan kegagalan melakukan pekerjaan membawa perasaan malu dan ragu-ragu.
c. Inisiatif Vs Rasa Bersalah
Pada tahap ketiga, kira-kira pada tahun ke-4 atau ke-5 dari kehidupan, kualitas ego tentang inisiatif memungkin anak merencanakan dan mengatur tugas-tugasnya. Anak ingin sekali belajar dengan cepat. Bahaya dari tahap ini adalah berkembangnya rasa bersalah. Anak sudah belajar tentang sesuatu yang dilarang, tetapi ambisinya tidak bisa dikendalikan dan ini mendorongnya berlaku agresif dan memanipulasi pada percobaannya untuk mencapai tujuannya. Pertumbuhan kapasitasnya mendorongnya pada besarnya keberanian. Fantasi seksualnya secara khusus menimbulkan rasa bersalah. Ingatlah pada sistem Freud, masa ini merupakan masa Oedipus Complex. Kesulitan dari tugas anak-anak mungkin semakin meningkat karena kecenderungan superego yang lebih membatasi daripada yang diharapkan orang tua, atau anak mengembangkan kemarahan jika ditemukan orang tuanya “mencoba melakukan pelanggaran hukum”, anak kini tidak bisa memaklumi dirinya. Menyerah dari harapan dan fantasi, Erikson berkata bahwa anak-anak kemungkinan akan menahan “kekuatan dalam kemarahan”. The virtue of purpose yang mendorong mengejar tujuan tanpa rasa takut hukuman atau rasa bersalah berkembang melalui permainan yang kini menjadi aktivitas utama anak. Dengan meniru orang dewasa dalam permainan, anak-anak belajar mengantisipasi peranannya di masa depan.
d. Industri Vs Rendah Diri
Lebih kurang sesuai dengan periode laten menurut Freud, antara 6 sampai 12 tahun, fase keempat dari kehidupan adalah “hanya sebuah ketenangan sebelum badai pubertas” dan “oleh masyarakat fase yang paling menentukan” (Erikson, 1963). Perasaan industri berkembang pada saat anak belajar mengontrol semangat imajinasi dan mengaplikasikannya pada pendidikan formal. Bahaya dari tahap ini adalah bahwa jika anak gagal atau dibuat merasa gagal akan tugas-tugas utamanya di sekolah dan di rumah mungkin akan ditinggalkan karena merasa rendah diri. Hal ini hanya melalui aplikasi pekerjaan anak dan mengembangkan rasa industri bahwa sifat baik dari kompetensi muncul, “latihan ketangkasan dan inteligensi dalam penyelesaian tugas-tugas” (Erikson, 1964). Anak-anak membutuhkan instruksi dan metodologi, tetapi yang sangat penting adalah mengaplikasikan kecerdasan dan energinya yang berlebihan.
e. Identitas Vs Kebingungan Idetitas
Hal ini berada pada fase kelima dari kehidupan yang oleh Freud ditandai sebagai masa dewasa atau masa “genital” dan ini merupakan masa akhir tahap kehidupan. Tetapi menurut Erikson, ini merupakan masa pembentukan identitas awal. Selama fase ini yang terakhir dari masa pubertas kira-kira usia 12 tahun sampai akhir masa remaja, para remaja mulai memiliki rasa identitasnya. Mereka sering kali mengalami konflik tentang bagaimana cara menyalurkan dorongan seksual. Mereka ingin mengambil keputusan, tetapi merasa tidak punya persiapan. Dengan demikian mereka bingung dan sering merasa malu, dan perilakunya tidak konsisten. Gangguan pada orang tua dan orang lain merupakan perkembangan dari identitas negatif-sebagai suatu potensi untuk berbuat buruk. Biasanya identitas negatif yang mereka lakukan diproyeksikan pada orang lain, “Mereka yang salah, bukan saya”. Tetapi kadang-kadang remaja menganut satu identitas negatif. Para remaja sering terlalu mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh idola atau kelompok yang memiliki sejenis identitas kolektif dan mereka menirunya. Dalam memasuki kelompok identifikasi, mereka menguji kesetiaan, “untuk mendukung loyalitas yang dijanjikan walaupun sistem nilainya bertentangan” (Erikson, 1964). Kondisi ini oleh Erikson disebut kesetiaan (fidelity). Sebagian remaja pada kelompok usia ini tidak siap untuk memecahkan krisis identitas mereka dan membutuhkan penundaan satu periode yang disebut sebagai periode penundaan psikososial (psychosocial moratorium) yang berarti satu waktu yang ditunda untuk bertanggung jawab sebagai orang dewasa.
f. Keintiman Vs Isolasi
Fase keenam, yaitu pada masa dewasa awal, sekitar usia 20-an, individu sudah siap dan ingin sekali menyatukan identitasnya dengan identitas orang lain. Mereka mulai mencari hubungan yang akrab. Mereka siap untuk mengembangkan kekuatan yang mereka butuhkan untuk bertanggung jawab pada orang lain, sekalipun tanggung jawabnya sebagai pengorbanan dan kompromi. Isolasi merupakan hal yang berbahaya pada fase ini, yaitu merasa tidak mampu “mengubah identitas diri dengan membagi keintiman” (Erikson, 1968). Hal ini terjadi setelah individu mengembangkan sebuah rasa memiliki yang kuat dan apa yang mereka inginkan dalam hidupnya pada apa yang dapat kembangkan pada fase cinta. Menurut Erikson, cinta adalah “saling setia” diantara dua individu yang berbeda kepribadian, pengalaman, dan peran.
g. Berketurunan (Generativity) Vs Stagnasi
Fase ketujuh (30 – 65 tahun) mengembangkan keturunan. Menurut Erikson fase ini merupakan fase memperhatikan untuk menetapkan dan membimbing generasi berikutnya. Secara umum ini berarti bahwa orang dewasa ingin mempunyai anak yang kepada siapa mereka akan mewariskan nilai-nilai. Lebih luas lagi generativitas meliputi produktivitas dan kreativitas. Makhluk hidup juga membutuhkan produk dan gagasan-gagasan, dan sebagain orang memenuhi “dorongan/ motif dewasa” (parental drive) dalam tahap ini daripada sekedar melahirkan anak. Jika tidak ada peluang untuk memenuhi kebutuhan generativitas, maka berisiko stagnasi, dimana kepribadian dimiskinkan dan mundur kepada self-concern.
h. Integritas Vs Putus Asa
Ketika orang merasa dibimbing, dipelihara, dan diperhatikan orang lain, mereka masuk pada tahap kedelapan yang dimulai sekitar usia 65 tahun. Pada tahap ini muncul kualitas ego integritas. Mereka merasa bahwa hidup mereka memiliki pesan dan makna dalam suatu pesan yang lebih besar. Mereka dapat melihat bahwa orang lain memiliki kehidupan yang berbeda, tetapi mereka siap mempertahankan martabat/ harga diri dari gaya hidup yang dijalaninya. Bahayanya adalah ketika merenung bahwa hidup mereka yang mendekati kematian, mereka akan merasa putus asa. Tetapi apabila perasaan integritas lebih besar dari rasa putus asanya, mereka akan bersikap lebih bijaksana.





Minggu ke 2 - Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Seperti juga psikologi yang mempelajari hidup kejiwaan manusia, dan memiliki usia sejak adanya manusia di dunia, maka masalah kesehatan jiwa itupun telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk pengetahuan yang sederhana.
Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam  menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.[1]
Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.
Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.
Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.
Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
  1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
  2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
  3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
  4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.
William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.[2]
Dasar dan Tujuan Mempelajari Kesehatan Mental
Kesanggupan seseorang untuk hidup rela dan gembira bergantung pada sejauh mana ia menikmati kesehatan mental. Kesehatan mental yang wajar adalah yang sanggup menikmati hidup ini, rela kepadanya, menerimanya dan sanggup membentuknya sesuai dengan kehendaknya.
Pemahaman terhadap kesehatan mental yang wajar memestikan akan pengetahuan tentang konsep dasar kesehatan mental, seperti yang telah dijelaskan oleh para psikolog, yaitu motivasi (motivation), pertarungan psikologikal (psychologgical conflict), kerisauan (anciety), dan cara membela diri.[3]
Motivasi adalah keadaan psikologis yang merangsang dan memberi arah terhadap aktivitas manusia. Dialah kekuatan yang menggerakkan dan mendorong aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu motivasi primer (biologis) yang mempunyai kaitan dengan dengan proses organik atau yang timbul dari kekurangan atau kelebihan pada sesuatu yang berkaitan dengan struktur organik manusia. Kedua, motivasi sekunder (psikologi) yang jelas tidak ada kaitannya dengan organ-organ manusia.
Pertarungan psikologis adalah terdedahnya (tercegahnya) seseorang kepada kekuatan-kekuatan yang sama besarnya yang mendorongnya kepada berbagai hal dimana ia tidak sanggup memilih salah satu hal tersebut.
Kerisauan, secara umum, adalah pengalaman emosional yang tidak menggembirakan yang dialami seseorang ketika merasa takut atau terancam sesuatu yang tidak dapat ditentukannya dengan jelas. Biasanya keadaan ini disertai perubahan keadaan fisiologis, seperti cepatnya debaran jantung, hilang selera makan, rasa sesak nafas, dan lain sebagainya.
Cara membela diri merupakan cara yang dibuat dan dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar untuk menghindarkan dirinya menghadapi pergolakan kerisauan yang dihadapi dan kekuatan-kekuatan yang bertarung dengan nilai-nilai, sikap dan tuntutan masyarakat.
Mempelajari kesehatan pada berbagai ilmu itu pada prinsipnya bertujuan sebagai berikut:[4]
  1. Memahami makna kesehatan mental dan faktor-faktor penyebabnya.
  2. Memahami pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penanganan kesehatan mental.
  3. Memiliki kemampuan dasar dalam usaha peningkatan dan pencegahan kesehatan mental masayarakat.
  4. Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan mengurangi timbulnya gangguan mental masyarakat.

Minggu ke 1 - Kesehatan Menurut Diri Sendiri

           Menurut saya kesehatan sebuah hal yang sangat mahal. Karena bila kita sakit tentu kita tidak akan pernah sanggup untuk menjalani hidup ini dengan Tenang. jangankan untuk berjalan bangun dari tidurpun terasa sakit unduk menggerakkan badan.
          Bila kita sakit pasti kita akan mengeluarkan banyak uang untik berobat apalagi jika kita sampai dirawat di Rumah sakit, tentu itu sangat menghabiskan waktu, uang dan terutama dapat enghambat segala aktivita dalam menjalankan rutinitas Sehari. Bila kesehatan fisik bisa membuat badan menjadi sakit, tentu itu juga dapat membuat mental menjadi semakin Rapuh, dan lemah tak berdaya untuk menerima segala penderitaannya.
       Memang kesehatan itu sangat sulit sekali untuk kita jaga, namun sebaiknya cegahlah kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, bergizi dan higienis! dan jauhilah Rokok dan segala makanan yang dapat menggoyahkan kesehatan kita
        Untuk menjaga kesehatan mental yaitu dengan cara kita selalu berserah diri dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuha, lebih banyak tersenyum dan menghadapisegala masalah yang pelik, karena setiap masalah pasti akan ada jalan keluar yang terbaik.